TUMPEK WAYANG, MENGASIHI DIRI

Di Bali, Tumpek (Sabtu Kliwon) kerap dimaknai sebagai pelaksanaan cinta kasih. Tumpek Landep, mencintai pengetahuan sebagai pengasah tajamnya pikiran. Tumpek Tumpek Wariga, cinta kasih pada tumbuhan. Tumpek Kuningan, cinta kasih pada leluhur dan warisannya. Tumpek Krulut, mencintai seni dan budaya. Tumpek Uye, cinta kasih pada hewan.

Dan hari ini, Tumpek Wayang menjadi saat kita mencintai diri sendiri dan orang lain sebagai sesama wayang-wayang kehidupan.

Sekumpulan Wayang selalu terbagi menjadi dualitas (baik-buruk, positif-negatif, Pandawa-Korawa, Rama-Rahwana). Begitulah sandiwara kehidupan ini akan selalu diperankan oleh dua sisi sifat manusia yang saling bertentangan namun selalu tampil bersama dalam satu panggung kehidupan.

Sang Dalang hanya satu, didampingi dua “katengkong” atau asisten. Dalam diri, keduanya adalah para malaikat dan setan pembisik. Dalam Mahabarata, mereka adalah Krishna dan Sakuni.

Dualitas itu berasal dari satu kotak keropak yang sama dan setelah usai, akan kembali ke dalam kotak liang lahat di bumi yang sama. Semua sama-sama diterima dengan keheningan yang sama oleh Ibu Pertiwi.

Pesan semestanya, terima diri apa adanya dengan segala dualitas yang saling bersinergi. Tinggal pilih mana yang mau diikuti, jangan lupa ikhlas menerima hasil/pahala atas setiap pilihan itu, tanpa perlu menyalahkan siapa pun.

Begitu pun diri orang lain, memiliki sisi baik-buruk yang harus dimaklumi dengan penerimaan yang sama.

Sumber fb : saat semesta bicara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *